0
Dikirim pada 12 November 2009 di Renungan Hadits

 Isbal artinya melabuhkan pakaian hingga menutupi mata kaki, dan hal ini
terlarang secara tegas baik karena sombong ataupun tidak. Larangan isbal bagi
laki-laki telah dijelaskan dalm hadist-hadist Rasulullah SAW yang sangat banyak,
maka selayaknya bagi seorang muslim yang telah ridho Islam sebagai agamanya
untuk menjauhi hal ini. Naun ada sebagian kalangan yang dianggap berilmu menolak
isbal dengan alasan yang rapuh seperti klaim kalau tidak sombong maka dibolehkan
?!. Untuk lebih jelasnya, berikut kami paparkan perkara yang sebenarnya tentang
isbal aga menjadi pelita bagi orang yang mencari kebenaran. Amiin. Wallohu
Musta’an


A. DEFINISI ISBAL

Isbal secara bahasa adalah masdar dari asbala, yusbilu, isbalan, yang bermakna
irqaa’an yang artinya menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedang menurut
istilah sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul A’roby RA dan selainnya adalah;
memanjangkan, melabuhkan dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak.
(Lihat Lisanul ’Arob Ibnul Manzhur II/321, Nihayah Fi Ghoribil Hadist Ibnul
Atsir 2/339).


B. BATAS PAKAIAN MUSLIM

Salah satu kewajiban seorang muslim adlah meneladani Rasuullah SAW dalam segala
perkara, termasuk dalam masalah pakaian. Rasulullah telah memberikan batas-batas
syar’I terhadap pakaian seorang muslim, perhatikan hadist-hadist berikut:

Rasulullah SAW bersabda:

"Keadaan sarung seorang muslim hingga setengan betis, tidaklah berdosa bila
memanjangkannya antara setengah betis hingga diatas mata kaki, dan apa yang
turun dibawah mata kaki maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik
pakainnya karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya." (HR. Abu Dawud 4093,
Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12, dishohikan oleh Al-Albany dalam Al-Misykah
4331).

Berkata Syaroful Haq Azhim Abadi R.A.: "Hadist ini menunjukkan bahwa yang sunnah
hendaklah sarung seorang muslim hingga setengan betis, dan dibolehkan turun dari
itu hingga di atas mata kaki, apa saja yang di bawah mata kaki maka hal itu
terlarang dan haram". (’Aunul Ma’bud 11/103).

Dari Hudzaifah R. A. beliau berkata:

Rasulullah memegang otot betisku lalu bersabda: "Ini merupakan batas bawah kain
sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan
juga maka tidk ada hak bagi sarung pada mata kaki. (HR. Tirmidzi 1783, Ibnu
Majah 3572, Ahmad 5/382, Ibnu Hibban 1447. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam
As-Shohihah 1765).

Hadist-hadist di atas mengisyaratkan bahwa panjang pakaian seorang muslim
tidaklah melebihi kedua mata kaki dan yang paling utama hingga setengah betis,
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam hadistnya yang banyak.

Dari Abi Juhaifah R. A. berkata:

"Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro[1] seakan-akan saya melihat
kedua betisnya yang sangan putih." (Tirmidzi dalam sunannya 197, dalam Syamail
Muhammadiyah 52, Ahmad 4/308).

’Ubaid bin Kholid R. A. berkata: "Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah
tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata: "Tinggikan sarungmu!
Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketaqwaan", ternyata dia adalah
Rasulullah, aku pun bertanya kepadanya: "Wahai Rasulullah ini Burdah Malhaa
(pakaian yang mahal), Rasulullah menjawab: "Tidakkah ada pada diriku terdapat
teladan?" Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis". (HR. Tirmidzi dalam
Syamail 97, Ahmad 5/364, Dishohikan oleh Al-Albani dalam Mukhtasor Syamail
Muhammadiyyah hal. 69).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah R. A. pernah ditanya tentang seseorang yang
memanjangkan celananya hingga di atas melebihi mata kaki, beliau menjawab:
"Panjangnya qomis, celana dan seluruh pakaian hendaklah tidak melebihi kedua
mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadist-hadist Nabi SAW’. (Majmu Fatawa
22/144).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Walhasil ada dua keadaan bagi laki-laki;
dianjurkan yaitu menurunkan sarung hingga setengan betis, boleh yaitu hingga di
atas kedua mata kaki. Demikian pula bagi wanita ada dua keadaan; dianjurkan
yaitu menurunkan di bawah mata kaki hingga sejengkal, dan dibolehkan higga
sehasta". (Fathul Bari 10/320).


C. DALIL-DALIL HARAMNYA ISBAL

Pertama :

Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah bersabda: "Ada tiga golongan yang tidak akan
diajak bicara oleh Alloh pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih;
Rasululloh menyebutkan tiga golongan tersebut berulang-ulang sebanyak 3 kali,
Abu Dzar brkata: "Merugilah mereka, siapakah mereka wahai Rasulloh?" Rasululloh
menjawab: "Orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit
pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu". (HR.
Muslim 106, Abu Dawud 4087, Nasa’I 4455, Dharimy 2608, Lihat Al-Irwa’ : 900).

Kedua :

Ari Abdullah bin Umar R. A. bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:

"Barngsiapa melabuhkan pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan
melihatnya pada hari kiamat". (HR. Bukhori 5783, Muslim 2085).

Syaikh Salim bin I’ed Al-Hilali berkata: "Isbal karena sombong adalah dosa
besar, oleh karena itu pelakunya berhak tidak dilihat oleh Alloh pada hari
kamat, tidak disucikanNya, dan baginya adzab yang pedih". (Manahi Syari’ah
3/206).

Ketiga :

Dari Abu Hurairoh bahwasanya Nabi bersabda: "Apa saja yang di bawah kedua mata
kaki di dalam neraka".(HR. Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96).

Keempat :

Dari Mughiroh bin Su’bah R. A., adalah Rasulloh SAW bersabda: "wahai Sufyan bi
Sahl! Janganlah kamu isbal, sesungguhnya Alloh tidak menyenangi orang-orang yang
isbal." (HR. Ibnu Majah 3574, Ahmad 4/246, Thobroni dalam Al-Kabir 7909,
dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Shohihah 2862).

Kelima :

"Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan
Alloh tidak menykai kesombongan". (HR. Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65, dishohihkan
oleh Al-Albani dalam As-Shohihah 770).

Keenam :

Dari Ibnu Umar R. A. berkata: "saya lewat di hadapan Rasulloh sedangkan sarungku
terjurai, kemudian Rasululloh SAW menegurku seraya berkata: "Wahai Abdullah
tinggikan sarungmu!" Aku pun meninggikannya, beliau bersada lagi: "Tinggikan
lagi !" Aku pun meninggikannya lagi, maka semenjak itu aku senantiasa menjaga
sarungku pada batas itu. Ada beberapa orang bertanya: "Seberapa tingginya?"
"Sampai setengan betis". (HR. Muslim 2086, Ahmad 2/33).

Berkata Syaikh Al-Albani Rahimmallohu: "Hadist ini sangat jelas sekali bahwa
kewajiban seorang muslim hendaklah ia meninggikannya hingga di atas mata kaki,
walaupun dia tidak bertujuan sombong, dan didalam hadist ini terdapat bantahan
kepada orang-orang yang isbal dengan sagkaan bahwa mereka tidak melakukannya
karena sombong! Tidakkah mereka meninggalkan hal ini demi mencontoh perintah
Rasululloh SAW terhadap Ibnu Umar??, ataukah mereka merasa hatinya lebih suci
dari Ibnu Umar?". (As-Shohihah: 4/95).

Brkata Syaikh Bakr Abu Zaid: "Dan Hadist-hadist tentang pelarangan isbal
mencapai derajat Mutawatir Makna, tercatum dalam kitab-kitab shohih, Sunan-sunan
ataupun Musnad-musnad, diriwayatkan banyak sekali oleh sekelompok sahabat.
Beliau lantas menyebutkan nama-nama sahabat tersebut hingga 21 (dua puluh satu)
orang. Lanjutya, "Seluruh hadist tersebut menunjukkan larangan yang sangat
tegas, larangan pengharaman, karena didalamnya terdapat ancaman yang sangat
keras. Dan telah diketahui bersama bahwa sesuatu yang terdapat ancaman atau
kemurkaan maka diharamkan, termasuk dosa besar, tidak bisa dihapus dan diangkat
hukumnya termasuk hokum-hukum syar’I yang kekal pengharamanya". (Hadd Tsaub Wal
Uzroh Wa Tahrim Isbal Wa Libas Syuhroh hal. 19).


D. DAMPAK NEGATIF ISBAL

Isbal keharamannya telah jelas, bahkan di dalam isbal terdapat beberapa
kemungkinan yang tidak bisa dianggap remeh, berikut sebagiannya:

1. Menyelisihi sunnah

Menyelisihi sunnah termasuk perkara yang tidak bisa dianggap enteng dan ringan,
karena kewajiban setiap muslim untuk mengamalkan setiap sendi dien dalam segala
perkara baik datangnya dari Al-Qur’an atau Sunnah.

Alloh SAW berfirman:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul, takut akan ditimpa
cobaan (fitnah) atau di timpa adzab yang pedih. (QS. An-Nur 63)

2. Mendapat ancaman neraka

Berdasarkan hadist yang sangat banyak berisi ancaman neraka[2], bagi yang
melabuhkan pakaiannya, baik karena sombong ataupun tidak.

3. Termasuk kesombongan

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimmallohu : "Kesimpulannya isbal melazimkan
menarik pakaian, dan menarik pakaian melazimkan kesombongan, walaupun pelakunya
tidak bermaksud sombong". (Fathul Bari 10/325). Rasululloh SAW bersabda:
"Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan".
(HR. Abu Dawd 4048, Ahmad 4/65, dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Shohihah
770).

Berkata Ibnul ’Aroby Rahimallahu : "Tidak boleh bagi laki-laki untuk
memanjangkan pakaiannya melebihi kedua mata kaki, meski dia mengatakan "Aku
tidak menariknya karena sombong", karena larangan hadist secara lafazh mencakup
pula bagi yang tidak sombong, maka tidak boleh bagi yang telah tercakup dalam
larangan kemudian berkata: "Aku tidak mau melaksanakannya karena ebab larangan
tersebut itu tidak ada pada diriku", ucapan semacam ini merupakan klaim yang
tidak bisa diterima, bahkan memanjangkan pakaian itu sendiri termasuk
kesombongan". (Fathul Bari 10/325).

4. Menyerupai wanita

Isbal bagi wanita disyari’atkan bahkan wajib, dan mereka tidak diperkenankan
untk menampakkan anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Orang yang
isbal berarti mereka telah menyerupai wanita dalam berpakaian, dan hal itu
terlarang secara tegas, berdasarkan hadist:

Dari Ibnu ’Abbas ia berkata: "Rasululloh melaknat laki-laki yang menyerupai
wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki". (HR. Bukhori 5885, Abu Dawud 4097,
Tirmidzi 2785, Ibnu Majah 1904).

Imam a-Thobari berkata: "Maknanya tidak boleh bagi laki-laki menyerupai wanita
di dalam berpakaian dan perhiasan yang menjadi kekhususan mereka, demikian pula
sebaliknya". (Fathul Bari 11/521).

Dari Khorsyah bin Hirr berkata: "Aku melihat Umar bin Khotob, kemudian ada
seorang pemuda yang melabuhkan sarungnya lewat di hadapannya. Maka Umar
menegurnya seraya berkata: "Apakah kamu orang yang haidh?" pemuda tersebut
menjawab: "Wahai Amirul Mukmini apakah laki-laki itu mengalamai haidh?" Umar
menjawab: "Lantas mengapa engkau melabuhkan sarungmu melewati mata kaki?"
kemudian Umar minta diambilkan gunting lalu memotong bagian sarung yang melebihi
kedua mata kakinya". Khorsyah berkata: "Seakan-akan aku melihat benang-benang
diujung sarung itu". (HR. Ibnu Abi Syaibah 8/393 dengan sanad yang shohih, lihat
Al-Isbal Lighoiril Khuyala’ hal. 18).

Akan tetapi laa haula wala quwwata illa billah, zaman sekarang yang katanya
modern, patokan berpakaian terbalik, yang laki-lai melabuhkan pakaiannya
menyerupai wanita dan tidak terlihat kecuali wajah dan telapak tangan! Yang
wanita membuka pakaiannya hingga terlihat dua betisnya bahkan lebih dari itu.
Yang lebih tragis lagi cemoohan dan ejekan kepada laki-laki yang memendekkan
pakaiannya karena mencontoh Nabi dan mengejek para wanita yang memajangkan
jilbabnya karena taat kepada Alloh SWT dan Rasulnya, akhirnya kepada alloh kita
mengadu. (Al-Isbal Lighoiril Khuyala’ 18)

5. Berlebih-lebihan

Tidak ragu lagi syari’at yang mulia ini telah memberkan batas-batas berpakaian,
maka barangsiapa yang melebihi batasnya sungguh ia telah berlebih-lebihan. Alloh
berfirman :

Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’rof 31)

Al-Hafzh Ibnu Hajar berkata: "Apabila pakaian melebihi batas semestinya, maka
larangannya dari segi isrof (berlebih-lebihan) yang berakhir pada keharaman".
(Fathul Bari 11/436).

6. Terkena najis

Orang yang isbal tidak aman dari najis, bahkan kemungkinan besar najis menempel
dan mengenai sarungnya tanpa ia sadari. Rasululloh SAW bersabda:

"Naikkan sarungmu karena hal itu lebih menunjukkan ketaqwaan-dalam lafazh yang
lain lebih suci dan bersih-." (HR. Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364,
dishohihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syamail Muhammadiyah hal. 69).


F. SYUBHAT DAN JAWABANNYA

Orang-orang yang membolehkan isbal mereka melontarkan syubhat yang cukup banyak,
diantara yang sering muncul ke permukaan adalah klaim mereka bahwa isbal jika
tidak sombong dibolehkan. Oeh karena itu penulis perlu menjawab dalil-dalil yang
biasa mereka gunakan untuk membolehkan isbal jika tidak bermaksud sombong:

Pertama hadist Ibnu Umar R. A.:

Dari Abdullah bin Umar R. A. bahwasanya Rosululloh SAW bersabda: "Barangsiapa
yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Alloh tidak akan melihatnya pada
hari kiamat !". Abu Bakar bertanya: "Ya Rosululloh sarungku sering melorot
kecuali bila aku menjaganya!" Rosululloh menjawab: "Engkau bukan termasuk orang
yang sombong". (HR. Bukhori 5784).

Mereka berdalil dengan sabda Rosululloh: "Engkau bukan termasuk orang yang
melakukannya karena sombong" bahwasanya isbal bila tidak sombong dibolehkan !?

Jawaban :

Berkata Syaikh Al-Albani: "Dan termasuk perkara yang aneh, ada sebagian orang
yang mempunyai pengetahuan tentang Islam mereka berdalil bolehnya memajangkan
pakaian atas dasar perkataan Abu Bakar ini. Maka aku katakan bahwa hadist di
atas sangat gamblang bahwa Abu Bakar sebelumnya tidak memanjangkan pakaiannya,
sarungnya selalu melorot tanpa kehendak dirinya dengan tetap berusaha untuk
selalu menjaganya. Maka apakah boleh berdalil dengan perkataan ini sementara
perbedaannya sangat jelas bagaikan matahari di siang bolong dengan apa yang
terjadi pada diri Abu Bakar dan orang yang selalu memanjangkan pakaiannya? Kita
mohon kepada Alloh SWT keselamatan dari hawa nafsu". (As-Shohihah 6/401).
Kemudian Syaikh berkata dalam tempat yang lain: "Dalam hadist riwayat Muslim,
Ibnu Umar pernah lewat di hadapan Rosululloh SAW sedangkan sarungnya melorot,
Rosululloh menegur Ibnu Umar dan berkata: "Wahai Abdulloh naikkan sarungmu!"
Apabila Ibnu Umar saja yang termasuk sahabat yang mulia dan utama, Nabi tidak
tinggal diam terhadap sarungnya yang melorot bahkan memerintahkannya untuk
mengangkat sarung tersebut bukankah hal ini menunjukkan bahwa isbal itu tidak
berkaitan dengan sombong atau tidak sombong?" (Muktashor Syamail Muhammadiyyah
hal. 11). Aloh SWT berfirman:

Sesungguhnya pada yang demikian ini benar-benar terdapat peringatan bagi orang
yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia
menyaksiakannya. (QS. Qoof : 37).

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimallahu berkata : "Dan adapun orang yang berhujjah
dengan hadist Abu Bakar maka kita jawab dari dua sisi; Pertama: Bahwa salah satu
sisi sarung Abu Bakar kadang melorot tanpa disengaja, maka beliau tidak
menurunkan sarungnya atas kehendak dirinya dan ia selalu berusaha untuk
menjaganya. Sedangkan orang yang mengklaim bahwa dirinya isbal karena tidak
sombong mereka menurunkan pakaiannya karena kehendak mereka sendiri. Oleh karena
itu kita katakan kepada mereka: "Jika kalian menurunkan pakaian kalian di bawah
mata kaki tanpa niat sombong maka kalian akan diadzab dengan apa yang turun di
bawah mata kaki dengan neraka. Jika kalian menurunkan pakaian karena sombong
maka kalian akan diadzab dengan siksa yang pedih yaitu Alloh SWT tidak akan
berbicara kepada kalian, tidak dilihat olehNya, tidak disucikan oleh Nya dan
bagi kalian adzab yang pedih."

Kedua: Mereka yang membolehkan isbal jika tidak sombong menyangka bahwa
hadist-hadist larangan isbal yang bersifat mutlak (umum), harus di taqyid
(kaitkan) ke dalil-dalil yang menyebutkan lafadz khuyala’ (sombong) sesuai
kaidah ushul fiqh Halul Mutlak a’lal Muqoyyad wajib (membawa nash yang mutlak ke
muqoyyad adalah wajib).

Jawaban: Kita katakan kepada mereka:

Itulah sejauh-jauhnya pengetahuan mereka. (QS. An-Najm: 30).

Kemudian kaidah ushul Hamlul Muthlaq alal Muqoyyad adalah kaidah yang telah
disepakati dengan syarat-syarat tertentu, untuk lebih jelasnya mari kita simak
perkataan ahlu ’ilmi dalam masalah ini.

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimmallahu: "Isbal pakaian apabila karena sombong
maka hukumannya Alloh SWT tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak mengajak
bicara dan tidak mensucikannya, serta baginya adzab yang pedih. Adapun disiksa
dengan neraka apa yang turun melebihi mata kaki, berdasarkan hadist:

Dari Abu Dzar R. A. bahwasanya Rasululloh SAW bersabda : "Ada tiga golongan yang
tidak akan diajak bicara oleh Alloh pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang
pedih: orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian
dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu". Juga sabdanya :
"Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan
melihatnya pada hari kiamat". Adapun yang isbal karena tidak sombong maka
hukumannya sebagaimana dalam hadist: Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di
dalam neraka". Dan Rasululloh SAW tidak mentaqyidnya dengan sombong atau tidak,
maka tidak boleh mentaqyid hadist ini berdasarkan hadist yang lalu, juga Abu
Sa’id Al-Khudri R. A. telah berkata bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:
"Keadaaan sarung serang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila
memanjanggkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki, dan apa yang
turun di bawah mata kaki maka bagiannya di neraka, barang siapa menarik
pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya".

Didalam hadist ini Nabi SAW menyebutkan dua permisalan dalam satu hadist, dan ia
menjelaskan perbedaan hukum keduanya karena perbedaan balasannya. Keduanya
berbeda dalam perbuatan dan berbeda dalam hokum balasan. Maka selama hukum dan
sebabnya berbeda tidaklah boleh membawa yang mutlak ke muqoyyad, karena kaidah
membawa mutlak (umum) ke muqoyyad (khusus) di antara syaratnya adalah bersatunya
dua nash dalam satu hukum, apabila hukumnya berbeda maka tidaklah ditaqyid salah
satu keduanya dengan yang lain.

Kesimpulannya; Kaidah : "Membawa nash yang mutlak ke muqoyyad wajib" adalah
kaidah yang telah muttafaq alaihi (disepakati) pada keadaan bersatunya hukum dan
sebab, maka tidaklah boleh membawa nash yang umum ke yang khusus apabila hokum
dan sebabnya sama! (Lihat Ushul Fiqh Al-Islamy karya Dr. Wahhab Az-Zuhaili).3


G. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan:

1. Isbal adalah memanjangkan pakaian hingga menutupi mata kaki baik karena
sombong maupun tidak, dan hal ini haram dilakukan bagi laki-laki.
2. Batas pakaian seorang laki-laki ialah setengah betis, dan dibolehkan hingga
di atas mata kaki, tidak lebih.
3. Hukum isbal tidak berlaku bagi wanita, bahkan mereka disyari’atkan menurunkan
pakaiannya hingga sejengkal dibawah mata kaki.
4. Isbal pakaian tidak hanya pada sarung, berlaku bagi setiap jenis pakaian
berupa celana, gamis, jubah, sorban dan segala sesuatu yang menjulur ke bawah.
5. Isbal karena sombong adalah dosa besar, oleh karena itu pelakunya berhak
tidak dilihat oleh Alloh SWT pada hari kiamat, tidak disucikannya, dan baginya
adzab yang pedih.
6. Isbal jika tidak sombong maka baginya adzab neraka apa yang turun di bawah
mata kaki.
7. Isbal memiliki beberapa kemungkaran, sebagaimana yang telah berlalu
penjelasannya.
8. Klaim sebagian orang yang melakukan isbal dengan alasan tidak sombong
merupakan klaim yang tidak bisa diterima. Maka bagi mereka kami sarankan untuk
memperdalam ilmu dan merujuk kalam ’Ulama dalam masalah ini. (Peng-bukan dengan
akalnya semata, lalu apa yang menjadi halangan para laki-laki untuk mengikuti
sunnah Rosululloh SAW yang mulia ini, tidak tahu (nah sekarang sudah tahu khan)
lalu apalagi halangannya, malu ??!)

Demikian yang bisa kami sajikan tentang masalah isbal semoga tulisan ini ikhlas
karena mengharap wajahNya dan bermanfaat bagi diri penulis serta kaum muslimin
di manapun berada. Amiin. Wallohu ’Alam


--------------
Catatan kaki:

[1] Hullah Hamro adalah kain bergaris yang berwarna merah dari Yaman

[2] Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: Nash-nash yang berisi ancaman neraka
bersifat umum, maka tidaklah boleh kita memastikan seseorang secara mu’ayyan
(tunjuk hidung) bahwa ia termasuk penghuni neraka, karena bisa jadi ada beberapa
penghalang yang memalingkannya untuk tidak mendapatkan tuntunan tersebut
(neraka) seperti bertaubat atau ia mengerjakan kebaikan yang menghapus dosa atau
mendapat syafa’at dan lainnya". (Majmu’ Fatawa 4/484)



Dikirim pada 12 November 2009 di Renungan Hadits
comments powered by Disqus
Profile

"berjuanglah untuk kejayaan islam" “Boleh jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang tiada pernah kan bergeming dan berubah, ‘tuk senantiasa memegang teguh janji setianya” More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 986.703 kali


connect with ABATASA