0

1. BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DI SELURUH AMALAN DAN PERKATAAN YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Allah Ta’la berfirman :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus*, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridha an) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. ..( Al Hajj : 37)

Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah Mengetahuinya. Dan Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 29 ).

1. BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DI SELURUH AMALAN DAN PERKATAAN YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Allah Ta’la berfirman :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus*, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridha an) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. ..( Al Hajj : 37)

Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah Mengetahuinya. Dan Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 29 ).


(SYARAH ………………….As Syaikh Muhammad Bin Sholih Al Utsaimin)

Niat tempatnya adalah di hati, maka tidak boleh melafadzkannya dengan lesan pada seluruh amalan. Untuk itu siapa saja melafadzkan niat ketika hendak ingin sholat atau puasa, haji, wudhu’ atau yang lainnya maka berarti dia telah membikin amalan baru yang tidak ada asalnya dari agama Allah.
Karena Nabi selalu berwudhu’ sholat, bershodaqoh, puasa dan amalan yang lainnya dan Beliau tidak melafadzkan niat, hal tersebut dikarenakan tempatnya niat adalah di hati. Sementara Allah Maha mengetahui apa yang ada di hati dan tidak ada sedikitpun yang tersembunyi bagi-Nya. Sebagaimana ayat yang dibawakan oleh imam An Nawawi yaitu
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah Mengetahuinya. Dan Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 29 ).
Wajib bagi manusia untuk mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah dalam seluruh ibadahnya. Dan jangan meniatkannya kecuali karena wajah Allah dan mengharap negeri akherat.
Demikianlah yang Allah perintahkan dalam firmannya :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus*, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)
(*) Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

Dan sudah semestinya bagi manusia untuk senantiasa menghadirkan niat pada seluruh amalannya. (dengan tetap menempatkannya dalam hati. pent)
Misalnya dia berniat hendak berwudhu maka ia niat berwudhu karena Allah dan ia berwudhu’ karena menjalankan (sesuai) perintah Allah. Maka hal ini meliputi 3 perkara :
1. Niat suatu ibadah (misalnya wudhu. Red )
2. Niatnya karena Allah
3. Niat menjalankannya karena (sesuai) perintah Allah

Inilah keadaan yang sempurna berkaitan dengan niat, begitu juga ketika hendak sholat dan amalan-amalan yang lainnya.
Al Imam An Nawawi menyebutkan beberapa ayat yang kesemuanya menunjukkan bahwa niat tepatnya adalah di hati dan Allah maha mengetahui niat setiap hamba-Nya. Bisa saja dia beramal suatu amalan yang nampak dihadapan manusia sebagai amalan yang sholih padahal amalan tersebut ternyata rusak dikarenakan dirusak oleh niatnya, sebab Allah maha tahu apa yang ada dalam hati.
Seorang manusia tidaklah diberi balasan nanti di hari qiamat kecuali berdasarkan apa yang ada dalam hatinya berdasarkan firman Allah :
Sesungguhnya Allah benar-benar Kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia*, Maka sekali-kali manusia tidak memiliki satu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong. ( QS. At Thariq : 8 –10 )

(*) Yaitu dihari yang akan dikabarkan seluruh isi hati manusia.
Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada” ( QS. Al ‘adiyat : 9 –10 )

Maka di akherat, pahala dan siksa dan adanya penilaian berdasarkan apa yang dihati. Adapun didunia maka penilaian itu berdasarkan yang dhohir (nampak) maka bermuamalah dengan manusia dengan dasar dhohir keadaan mereka. Akan tetapi dhohir yang nampak ini jika sesuai dengan apa yang ada pada bathinnya maka menjadi baiklah yang dhohir dan yang batin tersebut, yang tersembunyi maupun yang terangan-terangan. Namun jika menyelisihi sehingga hatinya menjadi persembunyian atas niat yang rusak maka betapa besar kerugian yang akan ditanggungnya. Dia beramal hingga capek sementara tidak ada hasil dan bagian yang diperolehnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shohih dari Nabi bersabda (Hadits Qudsi):
قال الله تعالى : أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته و شركه تخريج السيوطي: (م هـ) عن أبي هريرة. تحقيق الألباني : (صحيح) انظر حديث رقم: 4313 في صحيح الجامع.‌

“Sesungguhnya Allah berfirman : aku tidak butuh adanya sekutu-sekutu maka barang siapa yang beramal suatu amalan yang dia menyekutukan aku dengan yang selainku maka aku akan tinggalkan dia dan sekutunya.” ( HR. Muslim dari Hadits Abu Hurairah. )

Maka demi Allah wahai saudaraku tetapilah ikhlas karena Allah.
Ketahuilah syaithon senantiasa mendatangimu ketika engkau ingin beramal kebaikan dengan berkata : sesungguhnya kamu beramal ini tidak lain karena ria !! Kemudian dengan sebab bisikan tersebut, kamu hilangkan keinginanmu untuk beramal.
Yang benar hendaknya kamu tidak usah memperdulikan bisikan itu dan jangan kamu ikuti syaithon tersebut maka tetaplah beramal karena kalau engkau ditanya apakah kamu sekarang beramal ini karena ria atau sum’ah ? jawablah : bukan. Jadi itu tadi adalah was-was yang disusupkan oleh syaithon didalam hati kamu maka jangan kamu pedulikan.

Dikirim pada 02 September 2009 di Hadits Level 1

Berakhlak Baik

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم فَاحِشاً وَلاَ مُتَفَحِّشاً وَكَانَ يَقُوْلُ : إِنَّ مِنْ خِيَارُكُمْ أَحْسَنُكُمْ أًخْلاَقاً رواه البخاري.

10. Dari Abdullah bin Amru berkata: Nabi tidak pernah berbuat keji sendiri tidak pula berbuat keji kepada orang lain. Beliau bersabda: “Sesungguhnya termasuk sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Bukhari)

Perowi Hadits:
Dia adalah Abdullah bin Amru bin Ash Bin Wa-il Al Qurosy bertemu Nabi e pada garis kakeknya Ka-ab bin Luay, salah seorang golongan yang pertama masuk Islam (as sabiqunal awalun). Banyak meriwayatkan hadits.

Makna Secara Umum:
Dalam hadits tersebut terdapat dalil akan baiknya akhlaq Nabi . Beliau adalah bukan seorang yang berbicara maupun berbuat kotor. “Fakhsy” adalah setiap sesuatu yang keluar dari kadarnya hingga dianggap buruk termasuk dalam perkataan, perbuatan dan sifat. Sedang “Fakhisy” orang yang berkata keji dan “Mutafakhisy” orang yang menggunakan kekejian supaya orang ketawa.
Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang berkata dan berbuat keji”

Tuntunan-Tuntunan:
1. Keagungan syariat Islam dimana menyeru kaum muslimin untuk memiliki sifat-sifat yang utama misalnya; menghilangkan gangguan, menyambut orang dengan senyuman serta mencurahkan kebaikan.
2. Wajib berpegang teguh dengan akhlak utama dan meninggalkan akhlak yang buruk.
1. Berakhlaq baik mendekatkan kepada kedudukan Nabi e pada hari kiamat
2. Menghormati kaum muslimin dan mempergauli mereka dengan akhlak baik
3. Barangsiapa memiliki akhlaq baik memperoleh kecintaan Allah Ta’ala
4. Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.




Dikirim pada 12 Agustus 2009 di Hadits Level 1
04 Agu

Peringatan Dari Marah


[ عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ، فَرَدَّ مِرَاراً قَالَ : لاَ تَغْضَبْ] رواه البخاري.

9. Dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi: ’Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: ’Janganlah kamu marah’ Orang itu mengulang beberapa kali. Beliau bersabda: ’Janganlah kamu marah’ (HR Bukhari)

Perowi Hadits:
Dia adalah Abdurrahman bin Shokhr Ad Dausy, masuk Islam tahun Khaibar tahun 7 H, senantiasa menyertai Rasulullah karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak menghafal hadits.

Makna Secara Umum:
Dalam hadits tersebut mengandung larangan marah dan menjahui sebab-sebab timbulnya marah dan menghindari hal-hal yang membangkitkan amarah. Nabi membatasi lafadz ini karena penanya adalah seorang pemarah. Adalah Rasul memberikan fatwa kepada setiap orang dengan sesuatu yang memang sangat perlu (pas) untuk orang tersebut.
Dalam sabdanya ’Jangan marah’ Rasul mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat. Karena marah bisa ditakwilkan saling mutus hubungan dan mencegah kelembutan dan bisa ditakwilkan menyakiti orang yang dimarahi dengan sesuatu yang tidak perbolehkan sehingga menjadi kekurangan pada agamanya.

Tuntunan-Tuntunan:
1. Islam melarang marah karena hasilnya membahayakan untuk Islam.
2. Peringatan dari marah karena marah itu dari syaitan
3. Seorang muslim tidak boleh memarahi orang lain tanpa alasan yang benar
4. Ramah tamah dan lemah lembut termasuk sifat terpuji
5. Barangsiapa banyak marah akan banyak menyesal

Dikirim pada 04 Agustus 2009 di Hadits Level 1
02 Agu

Adab Buang Hajat

Hadits no : 8

[عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : كانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إذاَ دَخَلَ الخَلاَءَ قَالَ : اللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ ]رواه البخاري.

8. Dari Anas bin Malik berkata: “Adalah Nabi apabila masuk kamar kecil berdoa: “Ya Allah seseungguhnya aku berlindung kepadamu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan” (HR Bukhari)

[عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الخَلاَءِ قَالَ غُفْرَانَكَ ]رواه الترمذي وغيره.
Dari Aisyah bahwasanya Nabi apabila keluar dari kamar kecil berdoa: “Aku mohon ampunan-Mu” (HR Turmudzi dan yang lain)

Perowi Hadits:
Anas bin Malik Al Anshory, pembantu Rasululah , meriwayatkan banyak hadits.
Aisyah, dia adalah Aisyah binti Siddiq , istri Rasul saw, ahli fikih dan ilmu, meriwayatkan banyak hadits.

Makna Secara Umum:
Dzikir ini disyariatkan pada tempat-tempat yang memang disiapkan (untuk buang hajat). Oleh karenanya disertai (lafadz) “masuk”. Dzikir ini juga disyariatkan pada tempat-tempat yang tidak disiapkan untuk buang hajat sekalipun hadits tersebut disebutkan pada kamar kecil karena tempat tersebut memang biasa didatangi syaitan. Dhohir hadits Anas bahwa Nabi menyaringkan dzikir ini, maka labih baik menyaringkannya.

Tuntunan:
1. Disunahkan berdoa:
اللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan” ketika masuk tempat buang hajat
2. Disunahkan mendahulukan kaki kiri ketika masuk kamar mandi dan kaki kanan ketika keluar
3. Disunahkan ketika keluar dari tempat buang hajat berdoa:
غُفْرَانَكَ
“Aku mohon Ampunan-Mu”
4. Menjaga larangan (baca) dzikirullah di dalam kamar mandi
5. Larangan Dzikrullah di dalam kamar mandi

Dikirim pada 02 Agustus 2009 di Hadits Level 1
Awal « 1 2 3 » Akhir
Profile

"berjuanglah untuk kejayaan islam" “Boleh jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang tiada pernah kan bergeming dan berubah, ‘tuk senantiasa memegang teguh janji setianya” More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.666.867 kali


connect with ABATASA